Wednesday, March 12, 2014

Lynn: Cerita Pendek I


Potongan


            Pagi itu stasiun penuh sesak, dipenuhi orang-orang yang mengeluh tidak sabar. Kereta menuju Depok tak kunjung datang. Mahasiswa dan mahasiswi berdesakan sambil sesekali melihat jam tangan, berharap waktu berhenti dan mereka tidak perlu berlari ke kelas. Beberapa lainnya berharap dosen mereka terlambat pula dan sebagian memutuskan untuk membolos saja. Ah...tapi bagi dia waktu memang sudah berhenti. Tidak ada lagi berlari dan terlambat, karena kelasnya memang sudah selesai. Puluhan orang memandangnya tak percaya dan yang lain membereskan potongan tubuhnya.
.......................................................................................................................................................
            Aku berjalan gontai di depan stasiun bercat kuning itu. Dapat kudengar suara kakek-kakek penjual tissue bercampur dengan riuh tawa sekumpulan mahasiswa yang hendak pulang. Tapi aku tak mendengarkan. Juga tidak suara wanita dalam rekaman itu. Karena aku tak peduli sampai di mana kereta yang akan kunaiki. Jangankan itu, aku pun tidak peduli kereta mana yang akan aku naiki akhirnya. Karena itu memang bukan tujuanku.
            Tujuanku hanya satu. Mengumpulkan potongan-potongan kenangan. Kenangan yang telah begitu saja kau hancurkan. Kenangan tentang kau atau mungkin tentang diriku sendiri, yang juga telah menjadi sesuatu di masa lampau. Aku hanya ingin mencoba mengingat. Atau melupakan? Jika saja masih bisa.
            Dan ketika akhirnya kakiku berakhir di atas peron aku sangat bersemangat. Seperti yang dulu aku miliki ketika aku menunggumu sebelum melakukan perjalanan rahasia kita. Semangat yang kumiliki setiap kali aku akan berjumpa denganmu setiap hari Rabu dan Jumat atau ketika melihat sosokmu di balik pintu kereta yang terbuka perlahan. Sekarang aku mendengar suara wanita di rekaman itu. Aku peduli jika keretanya sudah sampai di sini. Aku peduli karena itu artinya kita akan bertemu lagi.
            Ujung sepatuku menyisir tepi peron bersamaan dengan suara klakson dan peluit yang semakin kencang. Lalu aku melihat nyala kedua lampu kuning yang menyinari rel yang sebentar lagi akan dilindasnya. Inikah waktu yang tepat? Ah..belum. Belum. Bukan sekarang. Maka aku menarik ujung sepatuku lagi dan menunggu bersama yang lain di balik garis kuning. Tetap berdiri hingga pintu kembali tertutup. Melihat sosokmu terbawa bersama kereta yang melaju. Melaju tanpa potongan tubuhku.
            Mengapa tidak sekarang saja? Sesal dan marah kulimpahkan lagi pada diriku. Pengecut, umpatku pada diriku sendiri. Hidupku bahkan sudah tidak ada gunanya. Pikiranku berkecamuk. Kemarin malam kawan band-ku baru saja menendangku keluar dari band yang kupikir sudah menjadi rumahku sejak masih putih abu-abu. Pecundang. Itu kan salahku sendiri. Aku yang tiba-tiba berang dan menghancurkan gitar di studio rekaman. Dan lengkap sudah, semua orang yang dulu ada di sampingku pergi meninggalkanku. Tapi mengapa aku tidak juga siap untuk meninggalkan tubuhku?
            Aku berjalan ke luar stasiun lagi tanpa sebuah perjalanan. Penjaga di stasiun tampaknya mulai mengenaliku. Si pemuda tanpa perjalanan. Ia tidak mengenaliku ketika aku masih benar-benar berjalan. Aku kembali melangkahkan kakiku. Telah kujual motorku untuk membayar kos-kosan di belakang rel kereta. Mungkin suatu saat aku akan menyusuri rel kereta itu saja dan berharap menemukan waktu yang tepat untuk menghentikan waktu.
            Hujan rintik-rintik membasahi jendela kamarku yang kecil. Sejak aku keluar dari band aku jadi sering mendekam di kamar seperti orang bodoh. Bermain gitar, menulis lagu, merokok, atau membaca setumpuk cerpen yang dulu selalu kau berikan padaku untuk dibaca. Aku baru tahu seorang gadis bisa membuatku merasa seperti ini. Seperti dalam permainan roller coaster, aku dijatuhkan secara tiba-tiba dari puncak tertinggi. Semakin jauh aku terpisah dari diriku sendiri. Diriku yang dulu sangat kau kagumi. Diriku yang punya visi dan cita-cita. Diriku yang selalu ingin merekat dan menguasai tubuhnya.
            Dalam situasi begini aku jadi sering melamun. Aku seperti orang buta yang diputarkan sebuah film empat dimensi. Merasa tapi tidak melihat. Hanya mata ingatanku saja yang melihat. Melihat dirimu yang menyandarkan kepalamu pada punggungku ketika aku memainkan sebuah lagu dengan gitarku. Atau ketika kamu memainkan rambut panjangku yang terurai sambil mengatakan aku mengingatkanmu pada tokoh musisi rock dalam novel favoritmu. Kamu tidak pernah mempermasalahkan pilihanku untuk berhenti kuliah demi sesuatu hal yang menjadi kegemaranku. Musik. Yang sialnya kini tidak lagi bisa membayar kebutuhan hidupku.
            Tidak bisa membayar kebutuhan hidup adalah hal yang kutakutkan dahulu. Ketika untuk pertama kalinya aku menikmati buah dadamu yang merekah matang dan kita mewarnai ranjang kecilku dengan persetubuhan. Kamu mengajakku bicara tentang masa depan dan aku berkata tentang ketakutanku untuk membawamu melangkah lebih jauh. Ketakutanku jika jalan yang kupilih tidak dapat memberikan kehidupan yang layak untukmu. Kamu hanya tertawa kecil dan mengecup jemariku yang hangat peluh. Kurt Cobain saja menikah pakai piyama, katamu.  
            Ah sudahlah, mengingatmu hanya membuatku tersiksa. Seperti mengharapkan sesuatu yang tak bisa didapatkan. Mengapa tidak sekarang saja? Apa lagi yang kutakutkan? Rasa sakit? Bukankah lebih sakit jika hidup seperti ini? Lalu apa? Atau mungkin justru potongan-potongan memori ini yang memintaku untuk terus hidup? Paling tidak untuk menghidupkannya. Tapi aku bahkan tidak tahu aku menikmatinya. Mengapa rasanya sulit sekali menentukan waktu untuk mengakhiri hidupmu? Kau tidak pernah menemukan saat yang tepat.
            Kadang aku berpikir mana yang lebih baik. Mati dalam keadaan sangat sedih atau sangat bahagia. Jika kita mati di saat paling bahagia, maukah kita mengakhiri kebahagiaan itu begitu saja? Mungkin rasanya seperti ketika kau menikmati gitar solo dalam konser rock dan tiba-tiba listrik padam. Atau saat kau hendak mencium kekasihmu dan tiba-tiba seseorang masuk ke dalam ruangan itu dan merusak momenmu. Tapi jika kematian datang di saat kita benar-benar menderita, siapakah yang mau mengakhiri perjalanan hidup dengan cara seperti itu? Hahaha. Bodoh. Aku mengusap rambut dengan telapak tanganku. Ini kan tidak penting bagimu. Ini semua tentang aku. Tentang aku dan orang-orang yang ditinggalkan. Aku mengambil pemantik dan menyalakan Marlboroku, mengisapnya dalam-dalam. Wajahmu membayang terbang bersama asap.
..................................................................................................................................................
            Hari ini stasiun kembali dipenuhi oleh orang-orang yang menunggu. Mahasiswa dan mahasiswi kembali mengumpat dan perlahan menghitung detak jam yang tidak juga berhenti. Berharap kereta segera datang dan mereka tak perlu berlari karena terlambat. Berharap dosen mereka terlambat pula atau mereka akan bolos saja. Tapi baginya waktu memang sudah berhenti. Kelasnya sudah lama selesai. Puluhan orang memandangnya tak percaya dan yang lain membereskan potongan tubuhnya, seperti yang mereka lakukan pada gadis tempo hari.
Jakarta, 6 Maret 2014
Lynn McKenzie

No comments:

Post a Comment